I HATE U BUT I MISS U
By : Setyawati Sriana
Please welcome to my holiday !!!
Libur tlah tiba, libur tlah tiba, hatiku gembira….
Kunyanyikan sepenggal lirik lagu itu dalam hati. Mungkin kalau aku ada di kamarku sendirian aku pasti akan menyanyikannya sekeras-kerasnya dengan suara emas delapan oktaf ala Mariah Kere. Namun nampaknya keinginanku untuk menikmati liburan kali ini dengan aman, nyaman, dan sentosa akan segera menjadi liburan yang membosankan dan menjengkelkan.
Ya, kukira saat ini ayah dan ibu memanggilku dan Raka, adik laki-lakiku yang minta ampun bandelnya untuk membahas tentang rencana liburan kami, tapi mereka justru mengawali liburan kami dengan memberitahukan berita terburuk dari segala berita buruk yang pernah kami dengar dalam setiap liburan kami.
“Rasti dan Raka, ibu ingin memberitahu kalian kalau liburan kali ini kita kan kedatangan tamu spesial,” ucap ibu dengan raut muka yang agak cemas.
“Memangnya siapa yang mau datang, kok ibu cemas gitu,” tanyaku yang jadi ikut-ikutan cemas juga.
“Mmmm… sebenarnya tamu spesial kita adalah….,” ibu menjawab dengan ragu-ragu, maka ayah melanjutkan kata-kata ibu
“Tamu spesial kita adalah keluarga Om Yudistira, teman ayah yang sepuluh tahun lalu pernah berlibur ke rumah kita .”
Aku benar-benar syok mendengar ucapan ayah barusan. Kugigit jariku sendiriberharap ini semua hanyalah mimpi, tapi rasanya sakit. Berarti aku tidak bermimpi dan ini semua adalah kenyataan.
Kenyataan yang kuyakin kan membawa bencana besar dalam hidupku dan mungkin Raka. Biarpun kami tidak bisa dianggap sebagai kakak beradik yang akur, tapi kurasa untuk masalah yang satu ini aku dan Raka punya jalan pikiran yang sama.
Pikiran tentang anak-anak keluarga om Yudistira yang pernah kami anggap sebagai momok, sumber bencana dan kesialan pada hidup kami. Buktinya ketika aku menoleh pada Raka, reaksinya tidak jauh beda dariku. Saat ibu bicara, dia masih sendiri dengan handphone barunya, tapi begitu mendengar kata-kata ayah dia hanya melongo dan tidak berkedip. Aku langsung menggebuk pundak Raka. Berharap lalat tidak masuk ke mulutnya yang menganga.
“Sakit tau. Pelan-pelan dong,” ujar Raka
Aku tak peduli dengan ucapan Raka. Dan ketika mendengar dan melihat dengan mata kepalaku sendiri kedua orang tuaku memohon-mohon padaku dan Raka agar mau menerima keluarga om Yudistira untuk berlibur dan menginap di rumah kami, hatiku jadi tak tega untuk menolak, walaupun sebenarnya aku sama sekali tidak ingin bertemu dengan anak-anak om Yudistira.
Memang om Yudistira dan tante Yudistira adalah orang yang baik dan ramah padaku dan Raka, tapi kedua anaknya justru mewarisi sifat yang berbeda. Dua anak jahil, tengil, dan suka ngupil yang pernah membuatku dan Raka mengalami liburan terburuk seumur hidup kami.
Tiba-tiba terbersit dalam pikiranku sebuah ide yang menggelikan. Entah ide ini datang dari bisikan genderuwo, pocong, atau kuntilanak tapi yang jelas ini benar-benar ide yang brilian menurutku.
“Ayah sama ibu tunggu bentar ya, aku sama raka mau diskusi dulu. OK ,” tanpa ba bi bu lagi aku menarik Raka dan membawanya ke dapur.
“ Kenapa sih kak pake ke dapur segala. Jangan bilang kakak mau bunuh diri pake pisau dapur gara-gara nggak mau ketemu sama anak-anaknya Om Yudistira ,” terka Raka.
“ Dasar adik durhaka, masak kamu pikir kakak ini rela bunuh diri bunuh diri pake pisau dapur, kan nggak keren. Kalaupun kakak mau bunuh diri kakak pilih bunuh diri dengan loncat dari menara Eiffel. Pasti kejadian itu akan diabadikan dalam film berjudul Eiffel I’m in dead”.
“ Trus kakak ngapain kesini?”.
“ Makanya dengerin kakak ngomong dulu. Gak mungkin kakak mau liburan bareng sama anaknya Om Yudistira gitu aja. Kakak masih ingat waktu anaknya Om Yudistira yang namanya Rasya si tikus got jelek itu ngejahilin kakak habis-habisan. Masak dia masukin kodok di kotak makan kakak, nyembunyiin rok kakak waktu mandi, nakutin kakak dengan pura-pura jadi hantu pocong yang bikin kakak hampir pingsan, bahkan dia seenaknya aja motong rambut panjang kakak yang bagus kaya model iklan sampo.”
“ Sama aja kayak adiknya si Risya centil nenek lampir. Masak waktu aku tidur dia make up wajah adikmu yang sebelas dua belas sama Justin Timberlake ini jadi kayak tante-tante girang yang mau pergi arisan. Malah waktu itu kakak bilang aku kayak mbak Tuti bencong yang suka mangkal di perempatan situ.”
“ Nah makanya situasi seperti inilah yang harus kita manfaatkan sebagai ajang balas dendam.”
“ Balas dendam? Oh… boleh juga idenya. He … he…he,” Raka tertawa licik begitu juga denganku.
Kami pun kembali ke ruang keluarga. Kami akan mengatakan bahwa kami akan menerima kedatangan keluarga pak Yudistira pada ayah dan ibu.
Tak disangka, tak diduga, dan tak dikira keluarga om Yudistira sudah ada di ruang keluarga, dimana tatapanku hanya kutujukan pada seorang pria muda yan memakai jaket hijau itu. Pasti dia adalah Rasya si tikus got jelek itu.
Ha…ha…ha… Permainan ini akan segera dimulai sekarang juga. Aku dan Raka segera meluncur ke tempat ayah dan ibu.
Ketika Rasya mengajakku bersalaman aku sempat heran, apakah di benar-benar Rasya yang dulu senang sekali membuatku menangis. Saat itu dia adalah sosok anak kecil berkulit putih, berbadan tambun, dan berambut kribo layaknya Giring Nidji.
Namun yang ada di hadapanku sekarang adalah sosok yang berbeda. Dia tampak lebih kurus dengan berat badan dan tinggi badan yang ideal menurutku. Sedangkan rambutnya berubah menjdi lurus dan diberi gel rambut sehingga nampak lebih rapi. Sempat aku mengkhayal bahwa ia adalah Robert Pattinson si drakula yang cute abis itu. Tapi dia memang Rasya, karena om Yudistira mengenalkan dia sebagai Rasya Yudistira.
Dan yang paling membuatku heran ialah sikapnya yang kelihatan lebih ramah dan lebih sering tersenyum. Rasya juga menyalamiku dengan lembut, tidak seperti dulu ketika ia menyalamiku dengan membawa seekor tikus yang bikin heboh semua orang saat itu.
*******
Keesokan harinya…
“ Aaaaaaaa…… Oh my God. My beautiful face. Kenapa my beautiful face jadi seperti kucing garong ,” teriak Risya pagi-pagi buta di depan kaca. Sepertinya ayam-ayam ayah nggak perlu berkokok lagi karena seisi rumah menjadi terbangun dan berhamburan ke kamar Risya.
“ Ada apa Ris. Pagi-pagi udah bikin heboh ,” om Yudistira ikut panik.
“ Look… My face daddy. Dicoretin spidol jadi kayak kucing garong,” Risya tampak bingung dengan wajahnya yang bagiku malah seperti kucing jadi-jadian.
Sementara yang lain sibuk mengurusi wajah Risya, Raka justru cekikikan sendirian. Aku hanya terseyum melihatnya. Tampaknya dia sukses dengan rencana balas dendamnya.
Seusai sarapan kami semua pergi berpiknik ke kebun teh di dekat rumahku. Biarpun aku sudah ribuan kali ke tempat ini tapi rasanya tempat ini tidak pernah membuatku bosan. Tempat ini bagaikan lukisan alam sang maestro jagad yang tak pernah lekang oleh waktu. Selain itu udaranya benar-benar menyegarkan organ-organ tubuhku.
“ Rasti, tolong ajak Rasya jalan-jaln keliling kebun teh ini ya,” pinta ibu padaku.
“ Emangnya ibu sama yang lainnya gak ikut keliling?”.
“ Risya nggak mau ikut, Raka malah keluyuran sendiri, trus kami ini para orang tua mesti ingat sama umur. Salah-salah encok bapakmu ini kumat”.
Akhirnya hanya aku dan Rasya yang pergi. Situasi ini harus bisa kumanfaatkan untuk aksi pembalasanku. Aku nggak mau kalah sama Raka.
Meskipun kami sudah berjalan jauh tapi tak sepatah kata meluncur dari bibirku dan bibirnya. Aku sibuk berpikir tentang cara pembalasanku. Kalau Rasya, entah apa yang ada di otaknya saat ini. Jangan-jangan dia berpikir akan mengerjaiku lagi dengan cara yang mengerikan, dia akan mendorongku hingga jatuh di jurang yang dalam, lau aku mati dan jadi hantu gentayangan. Ihhh serem…
“ Rasti, gimana kalau kita duduk dulu di puncak bukit itu,” akhirnya dia bicara padaku.
Entah kenapa dari dekat suaranya terdengar begitu lembut di telingaku. Ah … aku harus buang jauh-jauh pikiran semacam ini. Tak lam kemudian kami sudah sampai di puncak bukit dan segera duduk disana.
“ Ini sungguh tempat yang nyaman. Kamu pasti sering pergi kesini,”Rasya mengawali pembicaraan.
“ Eeee… ya begitulah ,” balasku agak kikuk.
“ Kamu tahu bagaimana caraku menikmati keindahan itu ?”.
“ Maksud kamu ?”.
Seketika ia menggandeng tanganku dan membawaku ke sebuah pohon rindang di puncak bukit ini.
“ Kamu bisa naik pohon ini ?” tanya Rasya.
“ Jangan panggil aku Rasti kalau aku nggak bisa naik pohon ini”.
Dia hanya tersenyum simpul. Dan senyuman itu agaknya membuat jantungku berdegup kencang. Sampailah kami di atas pohon. Rasya duduk di cabang sebelah kanan, dan aku duduk di cabang sebelah kiri. Kami berdua bersandar pada batang pohon yang berdiri kokoh ini. Aku berpikir ini suasana yang sangat romantis seperti di flim-film cerita cinta anak muda bau kencur.
“ Inilah caraku menikmati keindahan ini. Sejauh mata memandang hanyalah hamparan kebun teh yang hijau ini yang kulihat. Rasti, nikmatilah keindahan ini dengan hatimu yang tulus maka kau akan rasakan betapa bahagianya kau hidup.Pandanglah langit biru yang menenangkan dan menentramkan hati itu. Lihatlah awan-awan seakan mereka menyapa kita. Dan hiruplah udara yang selalu memberimu kehidupan. Ahhh… aku jadi ngantuk”
Mendengar kata-katanya barusan seakan aku ingin melupakan pembalasanku padanya, memusnahkan segala rasa benciku padanya. Dan saat aku melihatnya tertidur aku merasakan kedamaian yang terpancar dari wajahnya. Wajah yang seakan tanpa dosa. Tampaknya aku benar-benar menikmati keindahan ini, entah dengan tulus hati atau tidak. Aku jadi ikut-ikutan mengantuk dan akhirnya tertidur.
Saat aku terbangun ternyata langit begitu gelap disertai dengan petir yang menyambar-nyambar.Tak kusangka cuaca jadi seperti ini, padahal tadi langit begitu biru dan cerah. Rasya pun jadi ikut terbangun.
Kami memutuskan untuk segera pergi dari sini. Namun baru beberapa langkah kami berjalan hujan mulai turun begitu deras bagai air bah yang mengguyur bumi. Dengan segera aku dan Rasya berlari meninggalkan tempat ini dan tanpa kusadari tangannya telah menggenggam tanganku.
Tiba-tiba kurasakan tubuhku tersungkur di antara tanaman teh yang bertebaran. Aku jatuh, terpeleset karena tanah yang cukup licin dan agak terjal dan kakiku rasanya terkilir. Ketika aku berusaha untuk berdiri tubuhku justru tidak mau mendukungku. Aku harus terjatuh untuk kedua kalinya.
Tanpa berucap sepatah katapun Rasya dia memakaikan jaketnya di tubuhku yang mulai menggigil. Kemudian dia menggendongku dan berjalan di tengah hujan lebat yang disertai angin kencang dan petir.
Walaupun udara begitu dingin tapi entah kenapa aku masih merasakan kehangatan di hatiku. Kehangatan yang entah dari mana. Mungkinkah Rasya?.
Tak kusangka dia rela menggendongku sampai ke bawah di tengah situasi yang mungkin membahayakan dirinya, sehingga kami dapat bertemu dengan ayah dan ibuku yang tampak sangat cemas dan khawatir pada keadaan kami.
Saat ibuku memapahku kulihat Rasya justru terjatuh dan tak sadarkan diri. Aku begitu panik. Saat kupegang tangannya, tangannya begitu dingin. Bibirnya menjadi sedikit lebih biru dan wajahnya nampak pucat. Mungkin ini karena cuaca yang sangat buruk , beratnya medan, dan jauhnya jarak yang dilalui sungguh enggan berkompromi dengan tubuhnya.
Bersama dengan ayah, om Yudistira yang baru tiba bergegas membawanya ke Puskesmas terdekat untuk mendapatkan pertolongan. Aku begitu takut. Takut kehilangan Rasya.
*******
Akhirnya Rasya siuman, setelah aku menunggunya selama tiga hari dalam keadaan tak sadarkan diri. Sedikit demi sedikit kedua matanya mulai terbuka. Aku begitu bahagia. Saat melihatku, dia masih tersenyum seperti biasanya. Senyum yamg selalu membuatku tentram dan damai.
Setelah istirahat beberapa hari, akhirnya Rasya harus pulang kembali ke rumahnya di Jakarta. Memang aku agak sedih, tapi tak bisa kubayangkan betapa besarnya kesedihanku jika harus kehilangan Rasya.
Kami sekeluarga pun mengantarkan kepergian keluarga om Yudistira. Saat itu Rasya menyalamiku dan memberikan selembar kertas. Entah apa yang ada di dalamnya. Kemudian ia tersenyum dan mengelus rambutku dan berkata
“ Maaf, ya aku pernah memotong mahkotamu yang indah ini.”
Seiring dengan berlalunya mobil yang mengantar kepulangan keluarga om Yudistira aku membuka lipatan kertas dari Rasya dan membacanya
Ku mau
kau bersedia
melupakan kesalahan masa laluku
Ku ingin
kau memberi maaf
dengan hati tulusmu
Ku berharap
kau mau
menebar cinta dan keindahan
di setiap detik aku hidup
Tikus got jelek